Showing posts with label Papua Sehat. Show all posts
Showing posts with label Papua Sehat. Show all posts

Sunday, 1 March 2015

Mewujudkan Mimpi "Papua Sehat !" dari Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe

Mimpi "Papua Sehat !" dari Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe seperti saya kutip dalam sebelumnya menjadi pendorong tambahan dari peluncuran Proyek "Papua Sehat Mantap!" dengan slogan: Pikir, Konsumsi dan Perilaku Sehat ialah Kunci Papua Bangkit untuk Mandiri dan Sejahtera. Pendorong utama ialah Dua alasan yang saya kemukanan dalam halaman "Mengapa Papua Sehat?".Dalam halaman ini saya katakan ada tiga alasan saya luncurkan proyek ini. Dua alasan pertama terkait dengan kesehatan fisik Manusia Papua. Sementara Alasan keempat ialah alasan rohani, dan alasan kelima bersifat mental-psikologis.

Saya berpendapat, bahwa "Papua Sehat!" yang diimpikan Gubernur Provinsi Papua merupakan pendekatan modern, pendekatan konvensional, dari sisi paradigma berpikir modern. Pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukan Gubernur Papua perlu dilengkapi atau ditopang oleh pemikiran-pemikrian pascamodern, yang holistic dan yang lebih realistis.

Pemikiran pascamodern menandakan pemikiran-pemikiran yang tidak mengutamakan "pikiran" dan "tubuh" fisik, tetapi ia mementingkan kepentingan keseluruhan aspek, yaitu rohani, fisik, dan mental psikologis.

Kita sudah berlajar dari Taman Kanak-Kanak bahwa "Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat!" tetapi saya mau katakan bahwa ungkapan ini merupakan sebuah pernyataan yang terbalik. Pemikiran terbalik seperti inilah yang mewarnai pemikiran-pemikiran era modern. Pemikiran era pascamodern ialah "Dari pikiran yang sehat mendatangkan tubuh yang sehat!" atau "Tubuh yang sehat ialah pertanda atau buah dari jiwa yang sehat!" Jadi yang diutamakan di sini ialah "jiwa yang sehat", "pemikiran yang sehat", "rohani yang sehat" yang akan mendatangkan tubuh yang sehat, bukan sebaliknya.

Membangun rumah sakit, menghasilkan dan merekrut serta membayar para tenaga medis yang banyak dengan fasilitas yang memadai dan pemberian penghargaan yang pantas dan secukupnya di Tanah Papua merupakan pendekatan era modern. Pendekatan era pascamodern ialah mendirik seluruh orang Papua menjadi sadar untuk hidup sehat, dan hidup sehat dengan mula-mula berpikir sehat. Lalu disusul dengan perilaku konsumsi, makanan dan minuman yang sehat. Lalu diakhiri dengan pola hidup: cara duduk, cara berdiri, cara berbpicara, waktu tidur dan bangun, dan sebagainya yang sehat pula. Semuanya ini pada akhirnya secara otomatis menghadirkan "Papua yang Mandiri dan Sejahtera!", yaitu "Papua Sehat Mantap!"

"Papua Sehat Mantap!" hendak menghadirkan kegiatan-kegiatan, menggalakkan penjualan produk dan memberikan pendidikan dan pelatihan yang membantu kita berpikir sehat, mengkonsumsi sehat dan berpola-hidup sehat.

Bagi yang berminat untuk terlibat dalma proyek ini, silahkan hubungi saya:

Jhon Kwano
Email: info@papua.pw; info@papua.business
SMS: 081286101000



Saturday, 24 January 2015

Papua Sehat: Sehat Jasmani dan Sehat Rohani

Saat kita baca nama blog ini: PAPUA Sehat pasti kita mengarahkan pemikiran kita ke polik, rumah sakit, dokter, mantri, suster, obat, apotik, dan sejenisnya. Akan tetapi maksud daripada Proyek PAPUA Sehat dari Koperasi Baliem Arabica lewat Yayasan Delapan Plus Satu ialah membangun manusia Papua dan membangun manusia semesta secara utuh, secara pribadi dan secara terus-menerus.

Sehat Jasmani dan Sehat Rohani juga perlu dipahami. Jasmani tidak hanya berarti kelihatan dari luar sehat dan walafiat, tetapi lebih-lebih sehat di dalam, sehat di dalam setiap organ tubuh yang dimiliki setiap insan manusia.

Sementara Sehat Rohani tidak mengandung arti beragama dan beribadat seperti pandangan yang selama ini kita tahu. Di sini kita bermaksud "soul" and "spirit", yaitu jiwa dan roh dari masing-masing insan. Kita berbicara tentang bagaimana "soul" dan "spirit" kita sehat atau sakit dan bagaimana memelihara, merawat dan membesarkan mereka, lewat kegiatan yang kita lakukan secara fisik, lewat bantuan "tubuh" yang kita miliki saat ini.

Tentu saja, setelah "tubuh" ini telah berakhir riwayatnya, alias meninggal dunia, maka tugas rohaniah, yaitu membesarkan "soul" dan "spirit" berakhir. Itulah sebabnya dalam ajaran agama modern sering kita dengar kita harus beramal, berbuat baik, bertobat, berbhakti pada saat kita hidup di dunia ini, karena upah besar menunggu di alam baka.

Memang ajaran agama modern saat ini menunjukkan dengan jelas apa yang harus kita lakukan demi roh kita, tetapi jarang kita dengar apa yang harus kita lakukan dengan jiwa kita. Kita harus bedakan antara jiwa dan roh, lalu jiwa dan roh dibedakan daripada tubuh sebelum kita berbicara tentang apa tugas masing-masing pihak.

Tugas utama tubuh ini ialah merawat dan membesarkan roh dan jiwa, demikian kata Grand Master Mantak Chia, pendiri Sistem Penyembuhan Tao Universal (Universal Healing Tao System), berkantor pusat di Chiang Mai, Thailand.

PAPUA Sehat merupakan upaya orang Papua menelusuri kehidupannya, menilik ke dalam pribadinya, menemukan dirinya, mengambil sikap untuk merawat dan membesarkan jiwa dan rohnya, sehingga jiwa dan roh orang Papua bertumbuh, menjadi dewasa dan berkepribadian.


Friday, 24 January 2014

Mimpi Papua Sehat

Wednesday, 22-01-2014, SULUHPAPUA.com

Niat Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe untuk menyehatkan seluruh orang Papua rupanya tidak main – main, sampai – sampai ia harus mendirikan sebuah Unit Khusus dengan nama Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) yang dikomandani oleh salah satu putra terbaik Papua di bidang kesehatan drg. Aloysius Giay.
        Tidak tanggung – tanggung unit khusus yang langsung dibawah kendali Gubernur tersebut langsung di fasilitasi kantor baru, staff yang kompeten dengan berbagai latar belakang mulai dari akademisi, wartawan, sampai dengan birokrat berkumpul jadi satu untuk mencari solusi bagaimana merancang sebuah konsep menyehatkan orang Papua.
        Namun sejauh ini yang kita lihat barulah sebatas survey, hasil pemantauan lapangan, laporan kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan di beberapa daerah dan sejumlah konsep serta gagasan bagaimana untuk mewujudkan Papua Sehat. Bahkan Kartu Papua Sehat (KPS) yang digadang – gadang sejak awal peresmian dan pelantikan unit ini, sampai kini belum ada tanda – tanda kapan di launching atau bisa dinikmati oleh orang Papua.
        Tumpukan masalah sektor kesehatan yang sudah berhasil di identifikasi oleh UP2KP kita harap tentunya tidak berujung pada publikasi di media belaka sebagai bentuk pertanggung jawaban bahwa unit ini sudah bekerja dan benar – benar ada.
        Karena sejak sebelum Lukas Enembe berkuasa dan unit khusus ini dibentuk persoalan dan tumpukan masalah di bidang kesehatan sudah diketahui oleh seluruh petinggi pemerintahan mulai dari tingkat kabupaten sampai ke tingkat provinsi.
        Rendahnya asupan gizi yang berdampak pada gizi buruk, ketiadaan tenaga medis di tempat – tempat terpencil dan pedalaman, mahalnya biaya pengobatan, ketiadaan obat – obatan, minimnya sarana prasarana medis di pedalaman, dan rendahnya etos kerja tenaga medis yang berorientasi pada materi belaka dan terkadang melupakan sumpah dan janjinya sebagai pelayan masyarakat.
        Persoalannya itu – itu saja dari tahun ke tahun, dan tidak akan pernah beranjak selama pendekatan penanganan sektor kesehatan masih berorientasi pada proyek dan keuntungan atau kepentingan kelompok dan kroni belaka.
        Pembangunan Pustu tanpa mempertimbangkan apakah ada tenaga medis yang akan mengisi dan mau bertugas di tempat itu tidak, yang penting di bangun saja dulu, lain – lain urusan belakang, akhirnya banyak Pustu dan Puskesmas di pedalaman tidak ubahnya sebuah monumen yang hanya berujung pada pertanggung jawaban proyek dan anggaran belaka dari segi impact dan dampak untuk masyarakat nol besar.
        Pengadaan ruang operasi, dan peralatan medis yang canggih bukan berorientasi pada apa yang menjadi prioritas dan kebutuhan urgen masyarakat, jadi ada beberapa RSUD yang memiliki peralatan canggih bahkan konon kabarnya hanya ada di Papua, tapi tidak ubahnya hanya menjadi barang koleksi yang tidak bisa dipergunakan karena ketiadaan SDM.
        Masyarakat di kampung dan pedalaman tidak membutuhkan konsep dan gagasan yang muluk – muluk yang mereka butuhkan adalah kapan mereka sakit ada dokter atau mantri yang bisa memberikan obat dengan benar dan tepat.
        Saat mereka harus di operasi atau rawat inap mereka tahu harus kemana dan tidak perlu dihantui akan biaya yang selangit dan kemungkinan akan di sandera karena tidak mampu melunasi biaya berobat.
        Saat mereka tidak tahu apa itu Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ada petugas penyuluh kesehatan yang sedia setiap saat, bukan penyuluh yang turun 3 bulan sekali kalau ada SPPD dan setumpuk uang lelah dan uang perjalanan.
         Artinya sudah sekian tahun, dari konsep ke konsep, dari gagasan ke gagasan, yang dibutuhkan segera adalah action, untuk apa kita punya rumah sakit besar dan mewah menjadi rujukan dunia sekalipun kalau orang asli Papua di kampung – kampung kesulitan dan tidak bisa merasakannya nikmatnya hidup sehat, bukan jasmani, namun juga rohani.
(Redaksi)